As-salam.
ntah la...
aku nie belum salafi lg......
takut rasanya nk mengaku salafi...
tp selagi oksigen masih disedut, jantungku masih berdenyut,nyawaku belum ditarik akan ku gigit sunnahmu Ya Rasulullah semampuku.
Ya Allah, Kau tuhanku, Ampunilah diriku yg selalu berbuat dosa.
Thursday, June 11, 2009
Tuesday, June 9, 2009
Firqah sesat dan menyesatkan.
17. Hizbut tahrir [789]
Hizbut Tahrir adalah sebagai partai yang berorientasi politik, dan seluruh kegiatan dan aktifitasnya terpusat pada kegiatan dan aktifitas politik.
Pendiri Hizbut Tahrir adalah Syaikh Taqiyuddin Bin Ibrahim an-Nabhani rahimahullah. Lahir pada tahun 1909M. Ia terpengaruh dengan kakeknya dari pihak ibu bernama Syaikh Yusuf Ismail an-Nabhani yang terkenal dengan kesufiannya dan kebenciannya terhadap Salafush Shalih.
Pada tahun 1952 M ia mengajukan permohonan resmi ke Departemen Dalam Negeri Yordania agar memberi izin resmi bagi partainya yang bernama Hizbut Tahrir al-Islami, akan tetapi permohonannya itu ditolak. Setelah itu partai ini melakukan kegiatan partai secara diam-diam.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani meninggal dunia pada tahun 1977 M di Lebanon. Kemudian kepemimpinan partai ini dilanjutkan oleh ‘Abdul Qadim Zalim.[790]
Di antara pendapat kelompok ini ialah:
1. Menurut mereka khabar Ahaad (khabar yang tidak mencapai derajat mutawatir) bisa dipakai sebagai hujjah dalam masalah hukum dan tidak bisa dipakai dalam masalah ‘Aqidah. Dengan keyakinan seperti ini berarti mereka telah mengingkari banyak keyakinan, di antaranya :[791]
a) Nubuwwah (kenabian) Adam ‘alaihis salam dan Nabi-nabi lainya yang tidak disebut dalam Al-Qur-an.
b) Keutamaan Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas seluruh Nabi dan Rasul.
c) Syafa’at Uzhma’ beliau di padang Mahsyar.
d) Syafa’at beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bagi pelaku dosa besar dari umatnya.
e) Keimanan terhadap pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.
f) Keimanan adzab kubur.
g) Iman kepada Mizan yang memiliki dua daun timbangan.
h) Iman kepada qadha’ dan qadar dan bahawasanya Allah menulis bagi setiap manusia kecelakaannya atau kebahagiannya, rizki, dan ajalnya.
i) Iman kepada seluruh tanda-tanda kiamat, seperti keluarnya Imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa, dan selainnya.
j) Iman kepada peristiwa mi’rajnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam le langit, dan lain-lain.
2. Mereka berpendapat bahawa masalah akhlak bukan sebagai penopang masyarakat, tetapi penopang peribadi. Masyarakat tidak cocok dengan akhlak, tetapi cocok dengan pemikiran Islam dan menegakkan peraturan dan undang-undang. [792]
3.Lebih mendahulukan akal daripada nash-nash syariat. [793]
4. Meremehkan kewajiban-kewajiban seperti shalat berjama’ah,memelihara jenggot, berpakaian ala muslim, dan sebagainya dengan alasan belum tegaknya Daulah Islamiyyah. [794]
5. Dakwah mereka lebih berfokus pada penegakan daulah Islamiyyah dan tidak memperhatikan dakwah tauhid. [795]
6. Mereka membolehkan penetapan hukum syar’i atas dasar persangkaan dan mengharamkannya dalam bab ‘aqidah??!!
7. Untuk memperoleh kemenangan, mereka meminta bantuan kepada orang kafir atau musyrik atau non Muslim.
8. Mereka mengatakan bahawa masalah qadha’ dan qadar bukanlah masalah yang dibawa oleh Islam untuk diimani. Bukan pula termasuk masalah yang disebutkan oleh ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits untuk diyakini. Masalah ini tidak termasuk masalah ‘aqidah yang diperintahkan supaya diyakini. [796]
9.Berlebihannya mereka dalam masalah khilafah menyebabkan mereka menganggap bahawa dosa selain dosa hilangnya khilafah adalah kecil. [797]
10. Menurut mereka negara-negara Islam yang ada sekarang ini adalah negari kafir, meskipun mayoritas penduduknya Muslim, bahkan Makkah dan Madinah adalah negeri kafir menurut mereka??!! [798]
11. Menurut mereka mentauhidkan Allah bukanlah tujuan. Menurut mereka yang menjadi tujuan adalah mendirikan khilafah. [799]
12. Membolehkan berperang di bawah panji kafir dan kaki tangan kafir. [800]
[789] Lihat al-Jama’aah al-Islamiyyah fii Dhau-il Kitaabi was Sunnah bi Fahmi Salafi Ummah karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Hizbut Tahrir Munaaqasyah ‘Ilmiyyah li Ahammi Mabaadi-il Hizb wa Raddun Mufashshal Haula Khabaril Waahid, karya Abdurrahman Bin Muhammad Sa’id Dimasyqiyah.
[790] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 369)
[791] Lihat Wujuubul Akhdzi bi Hadiitsil Ahaad (hal. 49-53) karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
[792] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 370-377)
[793] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 458)
[794] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 376-377)
[795] Lihat Hizbut Tahrir (hal 82)
[796] Lihat Hizbut Tahrir (hal 34-35)
[797] Lihat Hizbut Tahrir (hal 36)
[798] Lihat Hizbut Tahrir (hal 46-47)
[799] Lihat Hizbut Tahrir (hal 82)
[800] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 434)
(disalin dari buku Mulia dengan Manhaj Salaf (2008) karya Ustaz Yazid Bin Abdul Qodir Jawwas, terbitan Pustaka At-taqwa, Bogor:Indonesia. Halaman 535-538)
Ana salin balik secara jujur dan ana mintak baca balik rujukan yang diberikan oleh ust Yazid BAGI MEREKA YANG MAHU TABAYYUN.
Hizbut Tahrir adalah sebagai partai yang berorientasi politik, dan seluruh kegiatan dan aktifitasnya terpusat pada kegiatan dan aktifitas politik.
Pendiri Hizbut Tahrir adalah Syaikh Taqiyuddin Bin Ibrahim an-Nabhani rahimahullah. Lahir pada tahun 1909M. Ia terpengaruh dengan kakeknya dari pihak ibu bernama Syaikh Yusuf Ismail an-Nabhani yang terkenal dengan kesufiannya dan kebenciannya terhadap Salafush Shalih.
Pada tahun 1952 M ia mengajukan permohonan resmi ke Departemen Dalam Negeri Yordania agar memberi izin resmi bagi partainya yang bernama Hizbut Tahrir al-Islami, akan tetapi permohonannya itu ditolak. Setelah itu partai ini melakukan kegiatan partai secara diam-diam.
Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani meninggal dunia pada tahun 1977 M di Lebanon. Kemudian kepemimpinan partai ini dilanjutkan oleh ‘Abdul Qadim Zalim.[790]
Di antara pendapat kelompok ini ialah:
1. Menurut mereka khabar Ahaad (khabar yang tidak mencapai derajat mutawatir) bisa dipakai sebagai hujjah dalam masalah hukum dan tidak bisa dipakai dalam masalah ‘Aqidah. Dengan keyakinan seperti ini berarti mereka telah mengingkari banyak keyakinan, di antaranya :[791]
a) Nubuwwah (kenabian) Adam ‘alaihis salam dan Nabi-nabi lainya yang tidak disebut dalam Al-Qur-an.
b) Keutamaan Nabi kita Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam atas seluruh Nabi dan Rasul.
c) Syafa’at Uzhma’ beliau di padang Mahsyar.
d) Syafa’at beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bagi pelaku dosa besar dari umatnya.
e) Keimanan terhadap pertanyaan Malaikat Munkar dan Nakir.
f) Keimanan adzab kubur.
g) Iman kepada Mizan yang memiliki dua daun timbangan.
h) Iman kepada qadha’ dan qadar dan bahawasanya Allah menulis bagi setiap manusia kecelakaannya atau kebahagiannya, rizki, dan ajalnya.
i) Iman kepada seluruh tanda-tanda kiamat, seperti keluarnya Imam Mahdi, keluarnya Dajjal, turunnya Nabi ‘Isa, dan selainnya.
j) Iman kepada peristiwa mi’rajnya beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam le langit, dan lain-lain.
2. Mereka berpendapat bahawa masalah akhlak bukan sebagai penopang masyarakat, tetapi penopang peribadi. Masyarakat tidak cocok dengan akhlak, tetapi cocok dengan pemikiran Islam dan menegakkan peraturan dan undang-undang. [792]
3.Lebih mendahulukan akal daripada nash-nash syariat. [793]
4. Meremehkan kewajiban-kewajiban seperti shalat berjama’ah,memelihara jenggot, berpakaian ala muslim, dan sebagainya dengan alasan belum tegaknya Daulah Islamiyyah. [794]
5. Dakwah mereka lebih berfokus pada penegakan daulah Islamiyyah dan tidak memperhatikan dakwah tauhid. [795]
6. Mereka membolehkan penetapan hukum syar’i atas dasar persangkaan dan mengharamkannya dalam bab ‘aqidah??!!
7. Untuk memperoleh kemenangan, mereka meminta bantuan kepada orang kafir atau musyrik atau non Muslim.
8. Mereka mengatakan bahawa masalah qadha’ dan qadar bukanlah masalah yang dibawa oleh Islam untuk diimani. Bukan pula termasuk masalah yang disebutkan oleh ayat-ayat Al-Qur-an dan hadits-hadits untuk diyakini. Masalah ini tidak termasuk masalah ‘aqidah yang diperintahkan supaya diyakini. [796]
9.Berlebihannya mereka dalam masalah khilafah menyebabkan mereka menganggap bahawa dosa selain dosa hilangnya khilafah adalah kecil. [797]
10. Menurut mereka negara-negara Islam yang ada sekarang ini adalah negari kafir, meskipun mayoritas penduduknya Muslim, bahkan Makkah dan Madinah adalah negeri kafir menurut mereka??!! [798]
11. Menurut mereka mentauhidkan Allah bukanlah tujuan. Menurut mereka yang menjadi tujuan adalah mendirikan khilafah. [799]
12. Membolehkan berperang di bawah panji kafir dan kaki tangan kafir. [800]
[789] Lihat al-Jama’aah al-Islamiyyah fii Dhau-il Kitaabi was Sunnah bi Fahmi Salafi Ummah karya Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dan Hizbut Tahrir Munaaqasyah ‘Ilmiyyah li Ahammi Mabaadi-il Hizb wa Raddun Mufashshal Haula Khabaril Waahid, karya Abdurrahman Bin Muhammad Sa’id Dimasyqiyah.
[790] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 369)
[791] Lihat Wujuubul Akhdzi bi Hadiitsil Ahaad (hal. 49-53) karya Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rahimahullah.
[792] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 370-377)
[793] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 458)
[794] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 376-377)
[795] Lihat Hizbut Tahrir (hal 82)
[796] Lihat Hizbut Tahrir (hal 34-35)
[797] Lihat Hizbut Tahrir (hal 36)
[798] Lihat Hizbut Tahrir (hal 46-47)
[799] Lihat Hizbut Tahrir (hal 82)
[800] Lihat al-Jama’aat al-Islamiyyah (hal 434)
(disalin dari buku Mulia dengan Manhaj Salaf (2008) karya Ustaz Yazid Bin Abdul Qodir Jawwas, terbitan Pustaka At-taqwa, Bogor:Indonesia. Halaman 535-538)
Ana salin balik secara jujur dan ana mintak baca balik rujukan yang diberikan oleh ust Yazid BAGI MEREKA YANG MAHU TABAYYUN.
Sunday, May 24, 2009
Aduhai Pakcik Bertaubat La...
Sekadar luahan hati,
Semasa menjaga kedai td dalam pukul 10.30 ade pakcik tua umurnya lingkaungan 65-70 tahun kantoi mencuri kat kedai ayah aku...Mak yang ternampak.. pakcik bertaubat la..
pastu bile ayah balik dari bank ayah cerita orang2 kampung yang suka mencuri kat kedai. Maka bertaubatlah selagi pintunya masih terbuka,
-Abu Abdul Rahman, 1145, Sunagi Nibong-
Semasa menjaga kedai td dalam pukul 10.30 ade pakcik tua umurnya lingkaungan 65-70 tahun kantoi mencuri kat kedai ayah aku...Mak yang ternampak.. pakcik bertaubat la..
pastu bile ayah balik dari bank ayah cerita orang2 kampung yang suka mencuri kat kedai. Maka bertaubatlah selagi pintunya masih terbuka,
-Abu Abdul Rahman, 1145, Sunagi Nibong-
Pesanan Sang Murabbi...
Sesiapa yang mempunyai rambut, maka muliakan ia
-Ustaz Abdul Razak-
Walaupun pesanan ini agak ringkas tetapi buat bermakna untukku.
-Ustaz Abdul Razak-
Walaupun pesanan ini agak ringkas tetapi buat bermakna untukku.
Monday, May 18, 2009
Sajak Sasterawan Negara ; Guru Oh Guru
Guru Oh Guru
BERBURU ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Ibarat bunga kembang tak jadi
(dedikasi kepada Hari Guru dan guruku tercinta)
Dialah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum jadi dewasa.
Dialah
ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetiaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.
Jika
hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.
Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakili seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.
Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulangi ilmu
Panggilan keramat “cikgu” kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.
USMAN AWANG
1979
BERBURU ke padang datar
Dapat rusa belang kaki
Berguru kepalang ajar
Ibarat bunga kembang tak jadi
(dedikasi kepada Hari Guru dan guruku tercinta)
Dialah pemberi paling setia
Tiap akar ilmu miliknya
Pelita dan lampu segala
Untuk manusia sebelum jadi dewasa.
Dialah
ibu dialah bapa juga sahabat
Alur kesetiaan mengalirkan nasihat
Pemimpin yang ditauliahkan segala umat
Seribu tahun katanya menjadi hikmat.
Jika
hari ini seorang Perdana Menteri berkuasa
Jika hari ini seorang Raja menaiki takhta
Jika hari ini seorang Presiden sebuah negara
Jika hari ini seorang ulama yang mulia
Jika hari ini seorang peguam menang bicara
Jika hari ini seorang penulis terkemuka
Jika hari ini siapa sahaja menjadi dewasa;
Sejarahnya dimulakan oleh seorang guru biasa
Dengan lembut sabarnya mengajar tulis-baca.
Di mana-mana dia berdiri di muka muridnya
Di sebuah sekolah mewah di Ibu Kota
Di bangunan tua sekolah Hulu Terengganu
Dia adalah guru mewakili seribu buku;
Semakin terpencil duduknya di ceruk desa
Semakin bererti tugasnya kepada negara.
Jadilah apa pun pada akhir kehidupanmu, guruku
Budi yang diapungkan di dulangi ilmu
Panggilan keramat “cikgu” kekal terpahat
Menjadi kenangan ke akhir hayat.
USMAN AWANG
1979
Saturday, May 16, 2009
Perangai Kita Terhadap Pemerintah.
Semasa azan magrib penulis bersembang dengan seorang pakcik berkaitan kerja. Lalu pakcik tersebut megatakan pihak kerajaan ini bodoh kerana memanjangkan umur pencen kakitangan kerajaan kepada 56 ke 57. Pandangannya sepatutnya pihak kerajaan memberi umur pencen 50 tahun supaya boleh digantikan graduan lepasan universiti. Tetapi bukan berapa umur sesuai pencen bagi kakitangan awam yang ingin penulis bahaskan tetapi perangai kita terhadap pemerintah atau kerajaan Islam.
Seluruh umat Islam dan menjadi ijmak para ulama’ ahlu Sunnah wa al-Jamaah bahawa Al-qur’an dan Al-Sunnah menjadi rujukan kita hingga hari kiamat. Penulis mengajak semua sahabat sekalian melihat bahawa Allah SWT menyuruh kita taat kepada pemerintah. Firman-Nya yang bermaksud:
“Taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemimpin(pemerintah) antara kamu...”. (An-nisa’,4:59)
Al-Imam Abdus Salam Bin Bajras Bin Hashir Ali Abdul Karim berkata:
“Antara perintah Allah dalam ayat ini ialah mengenai hal kewajipan kita taat kepada penguasa, dan Allah SWT mensetarakan ketaatan kepada pemimin dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ini semuanya menunjukkan betapa penting posisi pemimpin dan amat agung keadaannya”
[Lihat Mu’amalatul Hukkam Fi Dhauil Kitab wa As-Sunnah, hlm 50. Dinukil oleh Ustaz Rasul bin Dahri dalam Sikap Ahli Sunnah Wal Jamaah Terhadap Pemerintah & Pemimpin Islam, hlm 30]
Berkata Al-Imam Al-‘Izz Bin Abdus Salam rahimahullah dalam Qawa’idul Ahkam Fi Masalihul Anam (1/104) :
“Sepakat kaum muslimin bahawa taat kepada kekuasaan emimpin termasuk ketaatan kepada Allah”
[Dinukil oleh Ustaz Rasul bin Dahri dalam Sikap Ahli Sunnah Wal Jamaah Terhadap Pemerintah & Pemimpin Islam, hlm 31]
Ketaatan ini mesti diberikan kepada pemerintah Islam walaupun dia seorang yang fasiq kerana ini adalah perintah Nabi SAW dan hadith Nabi SAW yang akan penulis nyatakan bagi menafikan sangkaan beberapa pihak hizbiyah dan parti-parti yang kononnya memperjuangkan Islam sehingga mencabut ketaatan kepada pemerintah, bahkan yang lebih teruk mencaci-maki pemerintah Islam. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Akan ada selepas peninggalanku nanti pemimpin yang kamu mengenalinya dan menginkari kejahatannya, maka sesiapa yang menginkari kejahatannya (bermakna) dia telas berlepas diri dan sesiapa yang membenci kejahatannya dia telah selamat, akan tetapi orang yang meredhai kejahatannya akan mengikuti kejahatannya. Apakah tidak kita perangi mereka dengan pedang ya Rasulullah? Baginda menjawab : Jangan ! selagi mereka masih mendirikan solat dalam kalangan kamu”. (Hadith Riwayat Muslim, 6/23)
Daripada hadith ini menurut ahli hadith suatu negara dikira negara Islam apabila di negara tersebut dilaungkan azan dan solat ditegak serta HARAM BAGI KITA menjatuhkan pemerintah.
[Ustaz Rasul bin Dahri dalam Sikap Ahli Sunnah Wal Jamaah Terhadap Pemerintah & Pemimpin Islam, hlm 5]
Sabda Nabi SAW :
”dengarlah dan taatilah penguasa diwaktu susah dan senang, diwaktu lapang dan sempit, walaupun mereka mementingkan diri sendiri dan memakan hartamu serta memukul punggungmu, kecuali apabila memerintahkan untukberbuat maksiat” (HR Ibn Hibban dalam shahihnya. 10/426, dengan sanad yang hasan)
Sabda baginda SAW lagi :
“Setelah Allah mempunyai Khalifah dimuka bumi dan dia memukul punggungmu serta mengambil harta bendamu, maka kamu (dipernahkan agar) tetap taat” (HR Abu Daud)
Nah lihatlah kaum muslimin, Nabi SAW menyuruh kita mentaati pemerintah kaum muslimin walaupun pun dia berbuat zalim kepada kita dan hilanglah ketaatan kita kepadanya apabila menyuruh kita berbuat maksiat kepada Allah. Haram juga bagi kita apabila melakukan aktiviti yang menunjukkan rasa tidak puas hati dan pembangkangan kita kepada pemerintah yang berdalilkan hadith diatas.
Adalah satu budaya yang HARAM yang diamalkan oleh parti yang bergelar ‘parti Islam’ iaitu DEMONTRASI. Kononnya untuk menyedarkan pemimpin diatas kesilapan yang dilakukan oleh pemerintah, padahal parti yang berlabel Islam ini lupa bahawa jika pemerintah melakukan maksiat wajib bagi orang yang berkemampuan menegur pemerintah dengan cara yang baik dan lunak. Firman Allah SWT :
“Pergilah kamu berdua keada Fir’aun, sesuangguhnya dia telah melampui batas. Maka berbicaralah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Toha, 20:43-44)
Lihatlah pada ayat diatas bahawa Nabi Musa pun diperintahkan oleh Allah berbicara dengan lemah lembut dan sopan kepada Fir’aun yang kafir itu kerana mudah-mudahan dia takut kepada Allah, inikan pula pemerintah kita yang muslim maka lebih berlemah lembut. Demontrasi juga bukanlah budaya Islam tetapi ia budaya yang ditiru oleh sebahagian ‘parti Islam’ dari budaya orang kafir. Sabda Nabi kita Muhammad SAW:
“sesiapa yang meniru sesuatu kaum, dia termasuk dari kaum tersebut” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tabrani)
Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan para sahabat berdemontrasi maka kita jangan melakukannya kerana Rasulullah bersabda:
“sesiapa yang melakukan sesuatu perbuatan yang bukan dari ajaran kami, maka ia tertolak” (HR Bukhari & Muslim).
Islam juga melarang kita mencaci-maki pemerintah Islam. Dalam athar yang shahih, Dari Abi Jamrah Ad-Dhubaiin dan dia berkata “Ketika sampai kepadaku khabar tentang dibakarnya ka’abah, aku segera pergi ke Makkah dan singgah ke tempat Ibn Abbas. Lalu aku mencaci al-Hajjaj di hadapannya. Beliau pun menegurku: janganlah engkau menjadi hamba syaitan!” (Riwayat Bukhari). Sebahagian ustaz dan penceramah yang berceramah atas tiket parti politiknya mecaci-caci serta memaki-maki pemerintahnya dengan kata-kata yang jijik bahkan yang lebih teruk menyamakan pemerintah kita dengan taghut, Na’uzubillah. Penulis ingin berpesan kepada pembaca dan pengekor-pengekor serta pendokong parti-parti hizbiyah berpegang teguhlah dengan tali Allah dan mengikutilah jejak langkah para sahabat Nabi SAW. Firman Allah SWT:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran, 3:103)
Sabda Nabi SAW :
“Aku nasihatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, sekalipun terhadap seorang budak habsyi. Sesungguhnya orang yang masih hidup selepasku maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Al-khulafa’ Ar-Rashidin yang mendapat pentujuk sesudahku. Berpeganglah kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (dalam urusan agama) kerana setiap hal yang baru itu ialah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu ialah sesat” (HR Tirmizi, hasan sahih)
Faqir ila rabbi,
-Abu Abdul Rahman, 11.34,15/5/09,parit 12 sungai nibong sekincan-
Seluruh umat Islam dan menjadi ijmak para ulama’ ahlu Sunnah wa al-Jamaah bahawa Al-qur’an dan Al-Sunnah menjadi rujukan kita hingga hari kiamat. Penulis mengajak semua sahabat sekalian melihat bahawa Allah SWT menyuruh kita taat kepada pemerintah. Firman-Nya yang bermaksud:
“Taatilah Allah, taatilah Rasul dan pemimpin(pemerintah) antara kamu...”. (An-nisa’,4:59)
Al-Imam Abdus Salam Bin Bajras Bin Hashir Ali Abdul Karim berkata:
“Antara perintah Allah dalam ayat ini ialah mengenai hal kewajipan kita taat kepada penguasa, dan Allah SWT mensetarakan ketaatan kepada pemimin dengan ketaatan kepada Allah SWT. Ini semuanya menunjukkan betapa penting posisi pemimpin dan amat agung keadaannya”
[Lihat Mu’amalatul Hukkam Fi Dhauil Kitab wa As-Sunnah, hlm 50. Dinukil oleh Ustaz Rasul bin Dahri dalam Sikap Ahli Sunnah Wal Jamaah Terhadap Pemerintah & Pemimpin Islam, hlm 30]
Berkata Al-Imam Al-‘Izz Bin Abdus Salam rahimahullah dalam Qawa’idul Ahkam Fi Masalihul Anam (1/104) :
“Sepakat kaum muslimin bahawa taat kepada kekuasaan emimpin termasuk ketaatan kepada Allah”
[Dinukil oleh Ustaz Rasul bin Dahri dalam Sikap Ahli Sunnah Wal Jamaah Terhadap Pemerintah & Pemimpin Islam, hlm 31]
Ketaatan ini mesti diberikan kepada pemerintah Islam walaupun dia seorang yang fasiq kerana ini adalah perintah Nabi SAW dan hadith Nabi SAW yang akan penulis nyatakan bagi menafikan sangkaan beberapa pihak hizbiyah dan parti-parti yang kononnya memperjuangkan Islam sehingga mencabut ketaatan kepada pemerintah, bahkan yang lebih teruk mencaci-maki pemerintah Islam. Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud:
“Akan ada selepas peninggalanku nanti pemimpin yang kamu mengenalinya dan menginkari kejahatannya, maka sesiapa yang menginkari kejahatannya (bermakna) dia telas berlepas diri dan sesiapa yang membenci kejahatannya dia telah selamat, akan tetapi orang yang meredhai kejahatannya akan mengikuti kejahatannya. Apakah tidak kita perangi mereka dengan pedang ya Rasulullah? Baginda menjawab : Jangan ! selagi mereka masih mendirikan solat dalam kalangan kamu”. (Hadith Riwayat Muslim, 6/23)
Daripada hadith ini menurut ahli hadith suatu negara dikira negara Islam apabila di negara tersebut dilaungkan azan dan solat ditegak serta HARAM BAGI KITA menjatuhkan pemerintah.
[Ustaz Rasul bin Dahri dalam Sikap Ahli Sunnah Wal Jamaah Terhadap Pemerintah & Pemimpin Islam, hlm 5]
Sabda Nabi SAW :
”dengarlah dan taatilah penguasa diwaktu susah dan senang, diwaktu lapang dan sempit, walaupun mereka mementingkan diri sendiri dan memakan hartamu serta memukul punggungmu, kecuali apabila memerintahkan untukberbuat maksiat” (HR Ibn Hibban dalam shahihnya. 10/426, dengan sanad yang hasan)
Sabda baginda SAW lagi :
“Setelah Allah mempunyai Khalifah dimuka bumi dan dia memukul punggungmu serta mengambil harta bendamu, maka kamu (dipernahkan agar) tetap taat” (HR Abu Daud)
Nah lihatlah kaum muslimin, Nabi SAW menyuruh kita mentaati pemerintah kaum muslimin walaupun pun dia berbuat zalim kepada kita dan hilanglah ketaatan kita kepadanya apabila menyuruh kita berbuat maksiat kepada Allah. Haram juga bagi kita apabila melakukan aktiviti yang menunjukkan rasa tidak puas hati dan pembangkangan kita kepada pemerintah yang berdalilkan hadith diatas.
Adalah satu budaya yang HARAM yang diamalkan oleh parti yang bergelar ‘parti Islam’ iaitu DEMONTRASI. Kononnya untuk menyedarkan pemimpin diatas kesilapan yang dilakukan oleh pemerintah, padahal parti yang berlabel Islam ini lupa bahawa jika pemerintah melakukan maksiat wajib bagi orang yang berkemampuan menegur pemerintah dengan cara yang baik dan lunak. Firman Allah SWT :
“Pergilah kamu berdua keada Fir’aun, sesuangguhnya dia telah melampui batas. Maka berbicaralah kamu kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut” (Toha, 20:43-44)
Lihatlah pada ayat diatas bahawa Nabi Musa pun diperintahkan oleh Allah berbicara dengan lemah lembut dan sopan kepada Fir’aun yang kafir itu kerana mudah-mudahan dia takut kepada Allah, inikan pula pemerintah kita yang muslim maka lebih berlemah lembut. Demontrasi juga bukanlah budaya Islam tetapi ia budaya yang ditiru oleh sebahagian ‘parti Islam’ dari budaya orang kafir. Sabda Nabi kita Muhammad SAW:
“sesiapa yang meniru sesuatu kaum, dia termasuk dari kaum tersebut” (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tabrani)
Rasulullah SAW tidak pernah mengajarkan para sahabat berdemontrasi maka kita jangan melakukannya kerana Rasulullah bersabda:
“sesiapa yang melakukan sesuatu perbuatan yang bukan dari ajaran kami, maka ia tertolak” (HR Bukhari & Muslim).
Islam juga melarang kita mencaci-maki pemerintah Islam. Dalam athar yang shahih, Dari Abi Jamrah Ad-Dhubaiin dan dia berkata “Ketika sampai kepadaku khabar tentang dibakarnya ka’abah, aku segera pergi ke Makkah dan singgah ke tempat Ibn Abbas. Lalu aku mencaci al-Hajjaj di hadapannya. Beliau pun menegurku: janganlah engkau menjadi hamba syaitan!” (Riwayat Bukhari). Sebahagian ustaz dan penceramah yang berceramah atas tiket parti politiknya mecaci-caci serta memaki-maki pemerintahnya dengan kata-kata yang jijik bahkan yang lebih teruk menyamakan pemerintah kita dengan taghut, Na’uzubillah. Penulis ingin berpesan kepada pembaca dan pengekor-pengekor serta pendokong parti-parti hizbiyah berpegang teguhlah dengan tali Allah dan mengikutilah jejak langkah para sahabat Nabi SAW. Firman Allah SWT:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Ali ‘Imran, 3:103)
Sabda Nabi SAW :
“Aku nasihatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat, sekalipun terhadap seorang budak habsyi. Sesungguhnya orang yang masih hidup selepasku maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kalian berpegang kepada sunnahku dan sunnah Al-khulafa’ Ar-Rashidin yang mendapat pentujuk sesudahku. Berpeganglah kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Jauhilah oleh kalian hal-hal yang baru (dalam urusan agama) kerana setiap hal yang baru itu ialah bid’ah dan setiap yang bid’ah itu ialah sesat” (HR Tirmizi, hasan sahih)
Faqir ila rabbi,
-Abu Abdul Rahman, 11.34,15/5/09,parit 12 sungai nibong sekincan-
Wednesday, May 13, 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)